Cerita Motivasi

“The word conflict has such a negative connotation, but what we heard from leaders is it isn’t always necessarily bad,”
- Shawn Bakker-
a psychologist and researcher at Psychometrics Canada


Setiap saat perusahaan pasti ingin usahanya tambah maju, menggandakan kapital maupun profit. Tantangan globalisasi semakin kuat. Beberapa korporasi dihadapkan pada situasi krisis: change or die. Sisanya masih aman. Tetapi membiarkan perusahaan terus berada di kubangan comfort zone juga bukanlah keputusan bijak. Sebab perubahan bisa datang kapan saja kepada siapa saja tanpa perlu diundang.
Antisipasi menjadi kunci. Dalam konteks manajemen internal perusahaan, bagaimana antisipasi menyikapi konflik? Ini yang menjadi pokok bahasan pada tulisan ini.  


Laut Tenang, Pelaut Tertidur
Jika pengertian konflik hanya dangkal, orang hanya fokus ke gunung masalah yang harus selesai. Mereka hanya diajak fokus melihat problem yang tampak kasat mata, tapi kurang meneropong jauh melihat makna konflik itu sendiri. Singkatnya, pengertian ini belum kokoh. Tingkat kedalaman memahami konflik  umumnya masih pada tataran “conflict is a disaster”,  belum sampai pada tingkat “conflict is a gift”.
Sudut pandang yang perlu dibuka kepada seluruh karyawan adalah value dari konflik. Masih sangat jarang orang bertanya “adakah value atau nilai positif dari konflik?” atau “apa manfaat atau makna di balik konflik?”. Sudut pandang pada umumnya adalah bahwa konflik harus dihindari karena lebih banyak tidak bermanfaat daripada manfaatnya. Konflik hanya keributan bising yang mengganggu kerja bahkan membuat ketidak-harmonisan hubungan antar karyawan. Disini hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Pelaut ayo bangun!
Konflik tidak selalu membawa sial. Dengan ada konflik, berarti ada tantangan yang perlu dipecahkan. Dengan adanya konflik, potensi karyawan dioptimalkan dalam arti SDM memaksimalkan daya pikir serta kreatifitas mencari ide atau solusi terbaik bagi perusahaan. Bayangkan jika situasi kantor tenang, dingin, tidak ada dinamika pertukaran atau pertarungan ide, dalam jangka panjang perusahaan bisa mengalami kerugian. Bukan rugi kehilangan profit, tapi rugi SDM-nya “tumpul”  tidak terlatih karena tidak biasa bekerja dalam dinamika kompetitif, dinamis dan update.  Maka, conflict is a gift dimulai dari mindsetMindset yang perlu dibangun dalam pikiran karyawan antara lain:
•      Konflik tidak bisa dihindari namun dalam dunia kerja konflik adalah wajar.
•      Don’t take it personally, fokusnya adalah ide atau solusi apa yang paling efektif untuk perusahaan, bukan soal siapa menang atau kalah.

Hal ini bukan bermaksud mendorong karyawan untuk mencari masalah di tempat kerja atau melakukan hal gegabah lain. Maksudnya kalaupun terjadi konflik, paradigma karyawan telah berubah. Melihat konflik atau ketidaksetujuan sebagai sesuatu yang normal.  Minimal karyawan terhindar dari sikap reaktif. Jadi yang dikembangkan adalah sikap dan kemampuan menerima perbedaan pendapat atau ide (bersikap objektif). Adu argumen, adu pendapat atau berdebat hanyalah sarana mendapatkan ide yang paling baik.

Emas di Balik Batu
Menyadari Indonesia sedang berada dalam pusaran ekonomi dunia, perusahaan berlomba-lomba untuk tetap kompetitif baik dari saingan dalam maupun luar negeri. Ini bukan soal menambah modal trilyunan rupiah atau mengadopsi teknologi terkini, tapi soal bagaimana suasana kantor dibangun. Suasana yang dimaksud bukan AC dingin atau kursi yang empuk, tapi menciptakan atmosfer bahwa konflik adalah hal biasa, sebuah ketidaksetujuan atau disagreement berarti ada kemungkinan gagasan yang lebih baik, perbedaan argumen berarti terbukanya alternatif-alternatif solusi. Disini sikap proaktif mulai bisa berkembang.
Perspektif leader lebih melihat konflik ibarat emas yang sedang dipanaskan, daripada api yang harus cepat-cepat dipadamkan. Konflik hanya sebagai sarana mencari solusi terbaik. Berada dalam suasana ini, setiap pribadi karyawan bisa berdaya maksimum, karyawan berani berpikir, bersuara dalam rangka memberi saran atau ide terbaik bagi perusahaannya.

Sumber :

MDI News 199/XIX/MARET 2014

No comments:

Post a Comment