Gary Hamel dan C.K. Prahalad adalah dua profesor
penulis buku bisnis yang sangat terkenal dari Harvard Business School
dan pernah melakukan riset terhadap sekelompok monyet.
Pertama kali dimasukkanlah Monyet A dan Monyet B ke
dalam sebuah ruangan tertutup. Di dalamnya, diletakkan sebatang tiang, dimana
pada puncak tiang itu terdapat setandan pisang. Monyet A mulai memanjat tiang
itu, pada saat yang bersamaan sang profesor menyiramkan air sehingga
terpelesetlah Monyet A dan jatuh. Monyet A berusaha untuk memanjat lagi, tapi
karena licin, kembali dia terjatuh, begitu seterusnya sehingga Monyet A
menyerah.
Kemudian giliran monyet B, melakukan hal yang sama
dengan Monyet A, berulang kali mencoba dan jatuh, menyerah jugalah monyet B.
Kemudian, sang profesor memasukan Monyet C ke dalam
ruangan tersebut. Monyet C langsung ingin memanjat tiang karena melihat
setandan pisang yang begitu menarik. Tetapi, sebelum hal itu terjadi, Monyet A
dan B terlihat seperti dengan semangat menasihati Monyet C untuk tidak
mengalami hal yang konyol, yaitu terpeleset dan jatuh. ”Percuma kamu
memanjat tiang itu, kami berdua sudah, mencoba berulang kali, tetapi selalu
gagal”, mungkin begitu ucap Monyet A dan Monyet B. Akhirnya, Monyet C
menuruti nasehat kedua monyet itu, dia tidak berusaha mencoba memanjat lebih
dahulu.
Kemudian sang professor mengeluarkan Monyet A dan B,
dimasukkannya Monyet D dan Monyet E. Monyet D dan Monyet E ingin sekali
memanjat tiang itu, tetapi monyet C mencoba menasehati mereka untuk tidak
sekali-kali memanjatnya kalau tidak ingin terpeleset dan jatuh. Monyet D
mendengar dan mematuhi nasehat tersebut, dia tidak berusaha untuk memanjat.
Lain halnya dengan Monyet E, dia tidak mendengarkan
nasehat itu, dia tidak terpengaruh dengan nasehat itu, dia mulai mencoba untuk
memanjat. ”Apa salahnya mencoba” mungkin begitu pikir Monyet E.
Karena sang profesor tidak memberi air lagi pada tiang itu, Monyet E akhirnya
dapat mencapai puncak dan mendapatkan pisang.
Mari kita pelajari karakter monyet yang ada dalam
cerita :
Monyet A dan Monyet B:
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter dengan
mudahnya menyerah kalah dan dengan mudahnya mempengaruhi orang lain untuk tidak
berusaha, hidup pada masa lalu, memiliki pola pikir negatif terhadap dunia dan
terhadap diri sendiri. Parahnya, pola pikir tersebut dipaksakan untuk dipakai
oleh orang lain.
Dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh orang-orang hebat
yang potensial, Tuhan tidak pernah menciptakan kita dengan mental LOSER.
Tuhan telah menciptakan kita baik adanya, menciptakan kita dengan mental WINNER
TO BE THE BEST tetapi karena faktor pengalaman traumatis di masa lalu
dan pengalaman traumatis tersebut dijadikan pola pikir yang permanen. Hal
itulah yang menyebabkan orang-orang dengan potensi yang luar biasa
menjadi patah semangat. Solusinya adalah melakukan terapi dan reframing:
Pertama ambil posisi yang nyaman dan rileks, boleh
sambil mendengar musik instrumental yang anda sukai. Sambil menutup mata,
cobalah input kembali pengalaman masa lalu yang menurut Anda tidak
menyenangkan. Bagaikan sedang menonton bioskop dengan layar yang lebar dan
suara yang surround, Anda lihat dengan jelas kejadian tersebut beserta
oknum-oknum yang terlibat di dalamnya, apa yang oknum-oknum itu lakukan
terhadap diri Anda, apa yang mereka katakan terlihat makin jelas, semakin
jelas. Tetap atur nafas Anda dalam kondisi yang stabil, pastikan tubuh
anda tetap rileks.
Setelah “film” masa lalu Anda tamat, katakan dalam
hati “saya memaafkan…,saya mengampuni…”. Katakan berulang kali
sampai ada perasaan bahwa ada sesuatu yang selama ini membebani tubuh Anda
tersebut hilang dan Anda merasakan perasaan rileks luar biasa.
Mindset kita hari ini dipengaruhi oleh masa lalu. Masa
lalu tidak bisa kita hapus, masa lalu perlu mendapatkan pengampunan dan kata
maaf.
Masa lalu dapat menjadi sumbat tapi juga
bisa menjadi berkat.
Monyet C dan Monyet D :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter mudah
sekali percaya dengan input-input negatif yang diterima padahal dia belum
pernah mengalami hal tersebut. Orang-orang ini takut gagal, padahal belum
mencoba. Jika kita tidak pernah mencoba, kita sudah pasti tidak akan pernah
berhasil. Kita sukses bukan dengan kepandaian, tetapi dengan kegigihan.
Bila tadi monyet A dan Monyet B disebabkan oleh
pengalaman masa lalu, sekarang monyet C dan monyet D dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Di dalam lingkungan yang baik belum tentu kita jadi baik, tetapi di
dalam lingkungan yang buruk kita akan jadi buruk. Lingkungan memegang peranan
penting dan kita cenderung dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita berada.
Seberapa sering dalam sehari Anda mendengar kata-kata negatif yang membuat Anda
demotivasi? Kata-kata positif membuat muka berseri-seri, tetapi kata-kata
negatif mematahkan semangat.
Solusinya adalah dengan melakukan ujian ala Socrates,
ujian tiga saringan:
1. Uji KEBENARAN:
apakah pemberi informasi tersebut yakin bila informasinya tersebut benar? Atau
hanya sekedar berita “infotainment”?
2. Uji KEBAIKAN:
apakah info tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan?
3. Uji KEBERMANFAATAN:
apakah info tersebut bermanfaat untuk kemajuan diri kita?
Monyet E :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter tidak
mudah terpengaruh dengan input-input negatif. Orang ini selalu berjuang untuk
mendapatkan kesuksesan, berani mencoba dan tidak takut gagal.
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah
mengalami kegagalan. Orang yang sukses selalu bangkit kembali meskipun sudah
jatuh. Kalau kita ingin berhasil, kita harus berani mengambil RISIKO. Confusius
mengatakan, “kemenangan terbesar bukanlah karena kita tidak
pernah jatuh, tetapi bangkit setiap kali kita jatuh…”
2010 sudah berlalu, 2011 sudah datang. Apa resolusi
kita di tahun 2011? Mau menjadi seperti monyet A dan B? Atau menjadi seperti
monyet C dan D? Atau menjadi seperti monyet E? Pilihan ditangan Anda.
Nothing is Impossible if you think you CAN!!! n
Penulis adalah Trainer MDI
Budi Setiawan
Sumber : MDI News No. 161/XVII/Januari 2011
No comments:
Post a Comment