17 September, 2014

Lomba Foto


SINDROM MONYET

Gary Hamel dan C.K. Prahalad adalah dua profesor penulis buku bisnis yang sangat terkenal dari Harvard Business School dan pernah melakukan riset terhadap sekelompok monyet.
Pertama kali dimasukkanlah Monyet A dan Monyet B ke dalam sebuah ruangan tertutup. Di dalamnya, diletakkan sebatang tiang, dimana pada puncak tiang itu terdapat setandan pisang. Monyet A mulai memanjat tiang itu, pada saat yang bersamaan sang profesor menyiramkan air sehingga terpelesetlah Monyet A dan jatuh. Monyet A berusaha untuk memanjat lagi, tapi karena licin, kembali dia terjatuh, begitu seterusnya sehingga Monyet A menyerah.


Kemudian giliran monyet B, melakukan hal yang sama dengan Monyet A, berulang kali mencoba dan jatuh, menyerah jugalah monyet B.
Kemudian, sang profesor memasukan Monyet C ke dalam ruangan tersebut. Monyet C langsung ingin memanjat tiang karena melihat setandan pisang yang begitu menarik. Tetapi, sebelum hal itu terjadi, Monyet A dan B terlihat seperti dengan semangat menasihati Monyet C untuk tidak mengalami hal yang konyol, yaitu terpeleset dan jatuh. Percuma kamu memanjat tiang itu, kami berdua sudah, mencoba berulang kali, tetapi selalu gagal”, mungkin begitu ucap Monyet A dan Monyet B. Akhirnya, Monyet C menuruti nasehat kedua monyet itu, dia tidak berusaha mencoba memanjat lebih dahulu.
Kemudian sang professor mengeluarkan Monyet A dan B, dimasukkannya Monyet D dan Monyet E. Monyet D dan Monyet E ingin sekali memanjat tiang itu, tetapi monyet C mencoba menasehati mereka untuk tidak sekali-kali memanjatnya kalau tidak ingin terpeleset dan jatuh. Monyet D mendengar dan mematuhi nasehat tersebut, dia tidak berusaha untuk memanjat.
Lain halnya dengan Monyet E, dia tidak mendengarkan nasehat itu, dia tidak terpengaruh dengan nasehat itu, dia mulai mencoba untuk memanjat. ”Apa salahnya mencoba” mungkin begitu pikir Monyet E. Karena sang profesor tidak memberi air lagi pada tiang itu, Monyet E akhirnya dapat mencapai puncak dan mendapatkan pisang.
Mari kita pelajari karakter monyet yang ada dalam cerita :

Monyet A dan Monyet B:
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter dengan mudahnya menyerah kalah dan dengan mudahnya mempengaruhi orang lain untuk tidak berusaha, hidup pada masa lalu, memiliki pola pikir negatif terhadap dunia dan terhadap diri sendiri. Parahnya, pola pikir tersebut dipaksakan untuk dipakai oleh orang lain.
Dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh orang-orang hebat yang potensial, Tuhan tidak pernah menciptakan kita dengan mental LOSER. Tuhan telah menciptakan kita baik adanya, menciptakan kita dengan mental WINNER TO BE THE BEST tetapi karena faktor pengalaman traumatis di masa lalu dan pengalaman traumatis tersebut dijadikan pola pikir yang permanen. Hal itulah  yang menyebabkan orang-orang dengan potensi yang luar biasa menjadi patah semangat. Solusinya adalah melakukan terapi dan reframing:
Pertama ambil posisi yang nyaman dan rileks, boleh sambil mendengar  musik instrumental yang anda sukai. Sambil menutup mata, cobalah input kembali pengalaman masa lalu yang  menurut Anda tidak menyenangkan. Bagaikan sedang menonton bioskop dengan layar yang lebar dan suara yang surround, Anda lihat dengan jelas kejadian tersebut beserta oknum-oknum yang terlibat di dalamnya, apa yang oknum-oknum itu lakukan terhadap diri Anda, apa yang mereka katakan terlihat  makin jelas, semakin jelas. Tetap atur nafas Anda dalam kondisi yang stabil,  pastikan tubuh anda tetap rileks.
Setelah “film” masa lalu Anda tamat, katakan dalam hati “saya memaafkan…,saya mengampuni…”. Katakan berulang kali sampai ada perasaan bahwa ada sesuatu yang selama ini membebani tubuh Anda tersebut hilang dan Anda merasakan perasaan rileks luar biasa.
Mindset kita hari ini dipengaruhi oleh masa lalu. Masa lalu tidak bisa kita hapus, masa lalu perlu mendapatkan pengampunan dan kata maaf.
Masa lalu dapat menjadi sumbat tapi juga bisa menjadi berkat.

Monyet C dan Monyet D :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter mudah sekali percaya dengan input-input negatif yang diterima padahal dia belum pernah mengalami hal tersebut. Orang-orang ini takut gagal, padahal belum mencoba. Jika kita tidak pernah mencoba, kita sudah pasti tidak akan pernah berhasil. Kita sukses bukan dengan kepandaian, tetapi dengan kegigihan.
Bila tadi monyet A dan Monyet B disebabkan oleh pengalaman masa lalu, sekarang monyet C dan monyet D dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Di dalam lingkungan yang baik belum tentu kita jadi baik, tetapi di dalam lingkungan yang buruk kita akan jadi buruk. Lingkungan memegang peranan penting dan kita cenderung dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita berada. Seberapa sering dalam sehari Anda mendengar kata-kata negatif yang membuat Anda demotivasi? Kata-kata positif membuat muka berseri-seri, tetapi kata-kata negatif mematahkan semangat.
Solusinya adalah dengan melakukan ujian ala Socrates, ujian tiga saringan:
1.     Uji KEBENARAN: apakah pemberi informasi tersebut yakin bila informasinya tersebut benar? Atau hanya sekedar berita “infotainment”?
2.     Uji KEBAIKAN:  apakah info tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan?
3.     Uji KEBERMANFAATAN: apakah info tersebut bermanfaat untuk kemajuan diri kita?

Monyet E :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter tidak mudah terpengaruh dengan input-input negatif. Orang ini selalu berjuang untuk mendapatkan kesuksesan, berani mencoba dan tidak takut gagal.

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah mengalami kegagalan. Orang yang sukses selalu bangkit kembali meskipun sudah jatuh. Kalau kita ingin berhasil, kita harus berani mengambil RISIKO. Confusius mengatakan, “kemenangan terbesar bukanlah   karena kita tidak pernah jatuh, tetapi bangkit setiap kali kita jatuh…”
2010 sudah berlalu, 2011 sudah datang. Apa resolusi kita di tahun 2011? Mau menjadi seperti monyet A dan B? Atau menjadi seperti monyet C dan D? Atau menjadi seperti monyet E? Pilihan ditangan Anda.

Nothing is Impossible if you think you CAN!!! n



Penulis adalah Trainer MDI
Budi Setiawan

Sumber : MDI News No. 161/XVII/Januari 2011

10 September, 2014

Memenangkan Hati Pelanggan - Win Your Customer's Heart

Bagaimana sebenarnya memenangkan hati lawan bicara Anda dan mengenali kebutuhan mereka? Berikut ini ada tips-tips singkat agar Anda dapat berkomunikasi secara efektif:
1. Mendengarkan dan buatlah pengakuan
Pelanggan atau lawan bicara akan ingin berbicara lebih banyak kepada Anda apabila mereka diberikan pengakuan, dimengerti dan dihargai. Persiapkan diri selalu untuk mendengarkan secara tulus dan menggunakan pilihan kata yang baik. Gunakan kalimat-kalimat pacing untuk menciptakan connection. Tidak selalu kita harus memberikan respon akan setiap kalimat yang mereka ucapkan tetapi dengan memahami lawan bicara, akan membuat mereka nyaman.
Contohnya pada saat Anda sedang membaca tips-tips ini mungkin Anda menganggukkan kepala tanda setuju, atau mungkin kata ‘aha’ keluar dari pikiran Anda. Cobalah untuk mulai menggunakan beberapa teknik berikut ini dan Anda akan mendapatkan hasil yang berbeda di dalam berkomunikasi. Dengan memilih menggunakan beberapa pilihan kata untuk setuju dengan lawan bicara Anda, maka jarang sekali di masa mendatang lawan bicara tersebut tidak setuju dengan Anda.
2. Tanyakanlah pertanyaan dan ciptakan sebuah ʻFrameʼ
Hal ini akan mungkin bermanfaat pada saat berkomunikasi dengan lawan bicara atau pelanggan ‘kelas atas’, dengan mengetahui pasti apa yang mereka ingin capai. Tips sebelum rapat pikirkanlah mengenai tujuan dari pribadi dan solusi win/win yang ada. Bagaimana Anda dapat melacak apa yang Anda inginkan apabila Anda tidak memiliki daftar tujuan? Ciptakan agenda untuk mendapatkan persetujuan pada tujuan komunikasi dan menggunakan kuncikunci berkomunikasi salah satunya adalah menyetujui dengan apa yang dibahas.
Gunakan bahasa atau pembahasan sesuai dengan apa yang mereka suka, dan benar-benar tulus akan apa yang mereka sukai, alat-alat bantu yang dapat membantu dan mendukung lawan bicara untuk melihat perspektif Anda. Mari pikirkan hal ini pada saat Anda ingin mencapai sesuai rencana tugas Anda adalah untuk menggunakan bahasa untuk dapat mengajak lawan bicara Anda untuk mengikuti cara berpikir Anda mengenai suatu ide. Salah satu cara lain adalah membuat kesamaan di dalam rapport. Bagaimana cara kita menciptakan ‘koneksi’ dengan orang lain dan menciptakan rapport dan juga kekuatan dari hubungan dengan orang lain. Perhatikanlah tingkah laku dari lawan bicara anda, gerakan atau bahasa tubuh, tingkat kecepatan suara, nada suara.
3. Mengerti akan kebutuhan dan nilai dari lawan bicara Anda
Apapun pernyataan yang dibuat oleh seseorang, ada alasan akan apa yang mereka tanyakan dan mengapa itu penting. Hanya dengan menanyakan “Mengapakah hal ini penting untuk Anda?” apakah anda mengerti pesan dibalik pesan tersebut? Dengan mirroring ʻpatternsʼ lawan bicara Anda, Anda sedang menciptakan situasi atau lingkungan dimana seseorang menerima Anda dengan segala perbedaan Anda dan ʻconnects dengan Andaʼ. Gunakan bahasa yang menawarkan beberapa pilihan. Menyimpan masalah terlebih dahulu dan membiarkan situasi masa ini untuk dapat berlangsung. Apakah Anda tertarik akan...? Apakah Anda tertarik akan..? Mungkin Anda akan lebih bahagia untuk dapat melangsungkan hidup....?
Saya tidak sedang menggurui Anda hanya memberikan nasihat?



27 August, 2014

CONFLICT IS A GIFT



“The word conflict has such a negative connotation, but what we heard from leaders is it isn’t always necessarily bad,”
- Shawn Bakker-
a psychologist and researcher at Psychometrics Canada


Setiap saat perusahaan pasti ingin usahanya tambah maju, menggandakan kapital maupun profit. Tantangan globalisasi semakin kuat. Beberapa korporasi dihadapkan pada situasi krisis: change or die. Sisanya masih aman. Tetapi membiarkan perusahaan terus berada di kubangan comfort zone juga bukanlah keputusan bijak. Sebab perubahan bisa datang kapan saja kepada siapa saja tanpa perlu diundang.
Antisipasi menjadi kunci. Dalam konteks manajemen internal perusahaan, bagaimana antisipasi menyikapi konflik? Ini yang menjadi pokok bahasan pada tulisan ini.  


Laut Tenang, Pelaut Tertidur
Jika pengertian konflik hanya dangkal, orang hanya fokus ke gunung masalah yang harus selesai. Mereka hanya diajak fokus melihat problem yang tampak kasat mata, tapi kurang meneropong jauh melihat makna konflik itu sendiri. Singkatnya, pengertian ini belum kokoh. Tingkat kedalaman memahami konflik  umumnya masih pada tataran “conflict is a disaster”,  belum sampai pada tingkat “conflict is a gift”.
Sudut pandang yang perlu dibuka kepada seluruh karyawan adalah value dari konflik. Masih sangat jarang orang bertanya “adakah value atau nilai positif dari konflik?” atau “apa manfaat atau makna di balik konflik?”. Sudut pandang pada umumnya adalah bahwa konflik harus dihindari karena lebih banyak tidak bermanfaat daripada manfaatnya. Konflik hanya keributan bising yang mengganggu kerja bahkan membuat ketidak-harmonisan hubungan antar karyawan. Disini hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Pelaut ayo bangun!
Konflik tidak selalu membawa sial. Dengan ada konflik, berarti ada tantangan yang perlu dipecahkan. Dengan adanya konflik, potensi karyawan dioptimalkan dalam arti SDM memaksimalkan daya pikir serta kreatifitas mencari ide atau solusi terbaik bagi perusahaan. Bayangkan jika situasi kantor tenang, dingin, tidak ada dinamika pertukaran atau pertarungan ide, dalam jangka panjang perusahaan bisa mengalami kerugian. Bukan rugi kehilangan profit, tapi rugi SDM-nya “tumpul”  tidak terlatih karena tidak biasa bekerja dalam dinamika kompetitif, dinamis dan updateMaka, conflict is a gift dimulai dari mindset. Mindset yang perlu dibangun dalam pikiran karyawan antara lain:
•      Konflik tidak bisa dihindari namun dalam dunia kerja konflik adalah wajar.
•      Don’t take it personally, fokusnya adalah ide atau solusi apa yang paling efektif untuk perusahaan, bukan soal siapa menang atau kalah.

Hal ini bukan bermaksud mendorong karyawan untuk mencari masalah di tempat kerja atau melakukan hal gegabah lain. Maksudnya kalaupun terjadi konflik, paradigma karyawan telah berubah. Melihat konflik atau ketidaksetujuan sebagai sesuatu yang normal.  Minimal karyawan terhindar dari sikap reaktif. Jadi yang dikembangkan adalah sikap dan kemampuan menerima perbedaan pendapat atau ide (bersikap objektif). Adu argumen, adu pendapat atau berdebat hanyalah sarana mendapatkan ide yang paling baik.

Emas di Balik Batu
Menyadari Indonesia sedang berada dalam pusaran ekonomi dunia, perusahaan berlomba-lomba untuk tetap kompetitif baik dari saingan dalam maupun luar negeri. Ini bukan soal menambah modal trilyunan rupiah atau mengadopsi teknologi terkini, tapi soal bagaimana suasana kantor dibangun. Suasana yang dimaksud bukan AC dingin atau kursi yang empuk, tapi menciptakan atmosfer bahwa konflik adalah hal biasa, sebuah ketidaksetujuan atau disagreement berarti ada kemungkinan gagasan yang lebih baik, perbedaan argumen berarti terbukanya alternatif-alternatif solusi. Disini sikap proaktif mulai bisa berkembang.
Perspektif leader lebih melihat konflik ibarat emas yang sedang dipanaskan, daripada api yang harus cepat-cepat dipadamkan. Konflik hanya sebagai sarana mencari solusi terbaik. Berada dalam suasana ini, setiap pribadi karyawan bisa berdaya maksimum, karyawan berani berpikir, bersuara dalam rangka memberi saran atau ide terbaik bagi perusahaannya.

Sumber :

MDI News 199/XIX/MARET 2014

08 August, 2014

Dimulai Dengan Angan Angan




Segala yang terjadi, dimulai dengan khayalan. Segala yang anda capai, dimulai dengan angan-angan di pikiran.
Apa yang anda sekarang angankan, bila kita bicara tentang setahun, dua tahun ke depan? Apakah anda melihat masalah, dan segala sesuatu yang berantakan? Ataukah anda melihat peluang dan keberhasilan?
Tidak ada batas bagi imajinasi. Anda boleh mengkhayalkan apa saja. Khayalan tidak bisa dibatasi realitas fisik, kesulitan keuangan, rasa takut, penolakan dan apa saja yang mengurung anda di “dunia nyata”.

Bayangkan masa depan, dan biarkan diri anda melaju dengannya.

Tinggalkan kendala di belakang, dan tampilkan hidup yang ingin anda jalankan.
Hidup yang anda ciptakan akan dimulai dari angan anda.

Ciptakan angan-angan terbaik dan mulai bertindak untuk mewujudkannya dan mulai bertindak untuk mewujudkannya dan mulai bertindak untuk mewujudkannya.

31 July, 2014

INFO SDM EDISI JULI

Inspirasi Sang Kapten Kecil

Budi, demikian kami memanggilnya. Sangat susah mengingat nama belakangnya, terutama karena sekitar 25 tahun lalu kami sama-sama bermain tanpa perlu tahu nama lengkap masing-masing teman.
Kamu jadi kaptennya,” tunjuk Budi pada saya tiba-tiba saat kami akan mulai bermain sepakbola lima lawan lima.
Tim saya melawan tim yang dipimpin Kapten Budi. Entah apa yang dipikirkannya sehingga anak baru yang belum lama pindah ke lingkungan itu, ditunjuknya jadi kapten melawan timnya. Pada saat itu saya hanya bisa senyum-senyum saja.
Belakangan saya sadar, itu cara Budi membuat saya langsung akrab dengan teman-teman yang lain. Karena Budi, saya yang sebelumnya tidak memiliki teman sepermainan yang akrab di kampung tempat tinggal sebelumnya, perlahan mulai bisa belajar bergaul. Kata Budi saat itu, kapten harus banyak bicaranya, tidak boleh pemalu.
Sejatinya, Budi memang selalu dianggap sebagai pemimpin kami. Dialah kapten utama jika anak-anak kampung kami ditantang main bola dengan anak-anak kampung sebelah. Budi pula yang selalu kami kunjungi untuk bermain meskipun rumahnya hanya beralaskan tanah. Ada satu hal lagi yang membuat kami hormat pada Budi, karena dia selalu lebih pintar dan seolah tahu banyak hal. Suatu waktu ia bisa mengajarkan trik mendrible bola ala Maradona dengan seolah-olah mencungkil bola melewati lawan. Belakangan saya heran dari mana ia mendapatkan trik itu padahal di rumahnya televisi pun tidak ada.
Hingga suatu saat, Budi yang berumur dua tahun lebih tua daripada saya, harus mengalami kecelakaan. Tulang tangannya ada yang patah dan terpaksa dibalut gips. Meski demikian, Budi masih sanggup berteriak dari pinggir lapangan memberi semangat teman-temannya bermain bola.
Maju, oper kiri! Hei, awas kiper!”
Budi tak pernah menangisi kondisinya akibat kecelakaan. Pun dengan kondisi orang tuanya yang pas-pasan. Budi memang tak pernah benar-benar sembuh seperti semula karena mungkin orang tuanya tidak mampu membiayai pengobatannya. Namun itu tak membuat peran Budi berkurang di lingkungan kami.
Budi bagai inspirasi anak-anak di kampung kami serta menjadi sosok yang dijadikan kakak oleh para orang tua kami. Orang tua kami selalu menyebut nama Budi dan menyuruh kami mencontohnya saat kami mulai menangis, merengek minta dibelikan mainan. Sebagai anak kecil, karena melihat Budi, kami menjadi malu saat ketahuan menangis. Sosok Budi mengajari saya dan anak-anak lainnya tentang makna berbagi dan peduli terhadap sesama teman. Juga makna kesetiakawanan saat salah satu di antara kami harus dibela ketika ada orang lain yang berbuat nakal kepadanya.
Kami lebih suka bermain permainan tim seperti sepakbola dan betengan dibanding harus merengek pada orang tua untuk dibelikan mainan. Semua jenis permainan kami saat itu tak perlu membeli peralatannya terlebih dulu, kecuali sebuah bola plastik yang kami beli patungan di warung. Itupun kami gunakan berulang-ulang hingga bolanya jebol atau peyok. Sebuah momen yang akhirnya selalu mengingatkan saya untuk tidak boros membeli sesuatu barang baru kecuali benar-benar sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.
Meski kemudian Budi dan saya sama sekali tak pernah bertemu karena keluarga kami sering berpindah-pindah tempat tinggal, tetapi sosoknya tak bisa hilang dari memori jaman kanak-kanak saya. Ucapannya pada saya saat itu, “kamu jadi kaptennya,” seolah tak pernah terlupa meski hal itu diucapkan pada saya yang masih ingusan dan ketika kami baru kenal beberapa jam saja.
Saya menganggapnya sebagai “mantra” untuk menumbuhkan kepercayaan diri, sebuah titik balik karena sebelumnya saya jarang memiliki sekelompok kawan yang saling peduli. Jika Budi kecil saja langsung percaya bahwa saya pantas jadi kapten saat itu, kenapa dalam kehidupan saya sekarang tidak bisa mengemban tugas yang lebih berat? Kalimat yang mungkin sama sekali tidak disadari oleh Budi bisa mempengaruhi saya hingga kini dalam arti positif.
Tidak semua anak bisa memiliki karakter seperti Budi, terutama saat jaman ikut andil menggerus pola hubungan sosial dan pola permainan anak-anak saat ini. Ketika masa kanak-kanaknya sudah terlihat bakat sebagai pemimpin, saya kerap berandai-andai saat Budi dewasa benar-benar sukses menjadi kapten atau seorang pemimpin.
Saya membayangkan tentang sosok kapten seperti Steven Gerrard di Inggris, karakter masa kecilnya mungkin hampir sama dengan Budi kecil, karakter seorang pemimpin. Sang kapten Gerrard tak terbantahkan lagi menjadi inspirasi dan loyalitasnya dipuji karena sepanjang kariernya hanya membela satu klub saja. Lihatlah tatkala ia memimpin Liverpool menginjakkan kaki di Indonesia. Beragam pemberitaan dan kicauan di media sosial seolah kompak mengabarkan bahwa sang kapten begitu ramah dan bersahabat di luar lapangan.
Lihatlah bagaimana inisiatifnya berjalan di depan, memimpin rekan-rekannya untuk mengitari lapangan, melambai pada suporter Indonesia usai laga. Sungguh ia tahu cara berterima kasih di rumah orang, dan ia benar-benar menunjukkannya dengan kebersahajaan.
Itulah peran kapten sejati. Kapten bukanlah peran tanpa makna. Sebuah ban kecil yang melingkar di lengan, sesungguhnya harus terikat di hati sang kapten tersebut. Ia tak hanya bertugas sebagai wakil tim di lapangan saat berkomunikasi dengan wasit. Ia tak hanya berperan sebagai penyemangat rekan-rekannya di dalam lapangan. Lebih dari itu, seorang kapten adalah adalah panutan di dalam maupun di luar lapangan. Saat terjepit, ia tidak boleh larut dalam keterpurukan. Bahkan sebuah tepukan kecil di dada rekan-rekannya, merupakan tindakan penting sang kapten yang bisa membangun semangat kebersamaan.
Kembali ke sosok Budi kecil. Mungkin saya tak akan pernah lagi berjumpa dengannya, tapi sosok ceria dan pantang menyerahnya adalah hal utama yang menginspirasi saya dalam mendidik anak saya. Karena menjadi kapten yang baik dalam kehidupan nyata sesungguhnya tidak bisa diciptakan dalam sekejap. Baik sebagai kapten untuk diri sendiri, maupun kapten yang menginspirasi orang lain.
Kolom Inspirasi :
Dari cerita inspirasi sederhana tersebut kita semua dapat memaknai bahwa seorang pemimpin harus mampu mempercayai anggota teamnya, bagaimanapun dia. Hal ini ditunjukkan Budi saat memberikan posisi kapten kepada anak yang baru saja datang di lingkungan tersebut.
Ini inspirasi yang kudapat, bagaimana dengan Anda?
Sumber :

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/08/22/inspirasi-sang-kapten-kecil-583935.html