18 September, 2014
17 September, 2014
SINDROM MONYET
Gary Hamel dan C.K. Prahalad adalah dua profesor
penulis buku bisnis yang sangat terkenal dari Harvard Business School
dan pernah melakukan riset terhadap sekelompok monyet.
Pertama kali dimasukkanlah Monyet A dan Monyet B ke
dalam sebuah ruangan tertutup. Di dalamnya, diletakkan sebatang tiang, dimana
pada puncak tiang itu terdapat setandan pisang. Monyet A mulai memanjat tiang
itu, pada saat yang bersamaan sang profesor menyiramkan air sehingga
terpelesetlah Monyet A dan jatuh. Monyet A berusaha untuk memanjat lagi, tapi
karena licin, kembali dia terjatuh, begitu seterusnya sehingga Monyet A
menyerah.
Kemudian giliran monyet B, melakukan hal yang sama
dengan Monyet A, berulang kali mencoba dan jatuh, menyerah jugalah monyet B.
Kemudian, sang profesor memasukan Monyet C ke dalam
ruangan tersebut. Monyet C langsung ingin memanjat tiang karena melihat
setandan pisang yang begitu menarik. Tetapi, sebelum hal itu terjadi, Monyet A
dan B terlihat seperti dengan semangat menasihati Monyet C untuk tidak
mengalami hal yang konyol, yaitu terpeleset dan jatuh. ”Percuma kamu
memanjat tiang itu, kami berdua sudah, mencoba berulang kali, tetapi selalu
gagal”, mungkin begitu ucap Monyet A dan Monyet B. Akhirnya, Monyet C
menuruti nasehat kedua monyet itu, dia tidak berusaha mencoba memanjat lebih
dahulu.
Kemudian sang professor mengeluarkan Monyet A dan B,
dimasukkannya Monyet D dan Monyet E. Monyet D dan Monyet E ingin sekali
memanjat tiang itu, tetapi monyet C mencoba menasehati mereka untuk tidak
sekali-kali memanjatnya kalau tidak ingin terpeleset dan jatuh. Monyet D
mendengar dan mematuhi nasehat tersebut, dia tidak berusaha untuk memanjat.
Lain halnya dengan Monyet E, dia tidak mendengarkan
nasehat itu, dia tidak terpengaruh dengan nasehat itu, dia mulai mencoba untuk
memanjat. ”Apa salahnya mencoba” mungkin begitu pikir Monyet E.
Karena sang profesor tidak memberi air lagi pada tiang itu, Monyet E akhirnya
dapat mencapai puncak dan mendapatkan pisang.
Mari kita pelajari karakter monyet yang ada dalam
cerita :
Monyet A dan Monyet B:
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter dengan
mudahnya menyerah kalah dan dengan mudahnya mempengaruhi orang lain untuk tidak
berusaha, hidup pada masa lalu, memiliki pola pikir negatif terhadap dunia dan
terhadap diri sendiri. Parahnya, pola pikir tersebut dipaksakan untuk dipakai
oleh orang lain.
Dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh orang-orang hebat
yang potensial, Tuhan tidak pernah menciptakan kita dengan mental LOSER.
Tuhan telah menciptakan kita baik adanya, menciptakan kita dengan mental WINNER
TO BE THE BEST tetapi karena faktor pengalaman traumatis di masa lalu
dan pengalaman traumatis tersebut dijadikan pola pikir yang permanen. Hal
itulah yang menyebabkan orang-orang dengan potensi yang luar biasa
menjadi patah semangat. Solusinya adalah melakukan terapi dan reframing:
Pertama ambil posisi yang nyaman dan rileks, boleh
sambil mendengar musik instrumental yang anda sukai. Sambil menutup mata,
cobalah input kembali pengalaman masa lalu yang menurut Anda tidak
menyenangkan. Bagaikan sedang menonton bioskop dengan layar yang lebar dan
suara yang surround, Anda lihat dengan jelas kejadian tersebut beserta
oknum-oknum yang terlibat di dalamnya, apa yang oknum-oknum itu lakukan
terhadap diri Anda, apa yang mereka katakan terlihat makin jelas, semakin
jelas. Tetap atur nafas Anda dalam kondisi yang stabil, pastikan tubuh
anda tetap rileks.
Setelah “film” masa lalu Anda tamat, katakan dalam
hati “saya memaafkan…,saya mengampuni…”. Katakan berulang kali
sampai ada perasaan bahwa ada sesuatu yang selama ini membebani tubuh Anda
tersebut hilang dan Anda merasakan perasaan rileks luar biasa.
Mindset kita hari ini dipengaruhi oleh masa lalu. Masa
lalu tidak bisa kita hapus, masa lalu perlu mendapatkan pengampunan dan kata
maaf.
Masa lalu dapat menjadi sumbat tapi juga
bisa menjadi berkat.
Monyet C dan Monyet D :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter mudah
sekali percaya dengan input-input negatif yang diterima padahal dia belum
pernah mengalami hal tersebut. Orang-orang ini takut gagal, padahal belum
mencoba. Jika kita tidak pernah mencoba, kita sudah pasti tidak akan pernah
berhasil. Kita sukses bukan dengan kepandaian, tetapi dengan kegigihan.
Bila tadi monyet A dan Monyet B disebabkan oleh
pengalaman masa lalu, sekarang monyet C dan monyet D dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Di dalam lingkungan yang baik belum tentu kita jadi baik, tetapi di
dalam lingkungan yang buruk kita akan jadi buruk. Lingkungan memegang peranan
penting dan kita cenderung dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita berada.
Seberapa sering dalam sehari Anda mendengar kata-kata negatif yang membuat Anda
demotivasi? Kata-kata positif membuat muka berseri-seri, tetapi kata-kata
negatif mematahkan semangat.
Solusinya adalah dengan melakukan ujian ala Socrates,
ujian tiga saringan:
1. Uji KEBENARAN:
apakah pemberi informasi tersebut yakin bila informasinya tersebut benar? Atau
hanya sekedar berita “infotainment”?
2. Uji KEBAIKAN:
apakah info tersebut mengandung nilai-nilai kebaikan?
3. Uji KEBERMANFAATAN:
apakah info tersebut bermanfaat untuk kemajuan diri kita?
Monyet E :
Ibaratnya adalah orang yang mempunyai karakter tidak
mudah terpengaruh dengan input-input negatif. Orang ini selalu berjuang untuk
mendapatkan kesuksesan, berani mencoba dan tidak takut gagal.
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah
mengalami kegagalan. Orang yang sukses selalu bangkit kembali meskipun sudah
jatuh. Kalau kita ingin berhasil, kita harus berani mengambil RISIKO. Confusius
mengatakan, “kemenangan terbesar bukanlah karena kita tidak
pernah jatuh, tetapi bangkit setiap kali kita jatuh…”
2010 sudah berlalu, 2011 sudah datang. Apa resolusi
kita di tahun 2011? Mau menjadi seperti monyet A dan B? Atau menjadi seperti
monyet C dan D? Atau menjadi seperti monyet E? Pilihan ditangan Anda.
Nothing is Impossible if you think you CAN!!! n
Penulis adalah Trainer MDI
Budi Setiawan
Sumber : MDI News No. 161/XVII/Januari 2011
11 September, 2014
10 September, 2014
Memenangkan Hati Pelanggan - Win Your Customer's Heart
Bagaimana sebenarnya memenangkan hati lawan bicara
Anda dan mengenali kebutuhan mereka? Berikut ini ada tips-tips singkat agar
Anda dapat berkomunikasi secara efektif:
1. Mendengarkan dan buatlah pengakuan
Pelanggan atau lawan bicara akan ingin berbicara lebih
banyak kepada Anda apabila mereka diberikan pengakuan, dimengerti dan dihargai.
Persiapkan diri selalu untuk mendengarkan secara tulus dan menggunakan pilihan
kata yang baik. Gunakan kalimat-kalimat pacing untuk menciptakan connection.
Tidak selalu kita harus memberikan respon akan setiap kalimat yang mereka
ucapkan tetapi dengan memahami lawan bicara, akan membuat mereka nyaman.
Contohnya pada saat Anda sedang membaca tips-tips ini
mungkin Anda menganggukkan kepala tanda setuju, atau mungkin kata ‘aha’ keluar
dari pikiran Anda. Cobalah untuk mulai menggunakan beberapa teknik berikut ini
dan Anda akan mendapatkan hasil yang berbeda di dalam berkomunikasi. Dengan
memilih menggunakan beberapa pilihan kata untuk setuju dengan lawan bicara
Anda, maka jarang sekali di masa mendatang lawan bicara tersebut tidak setuju
dengan Anda.
2. Tanyakanlah pertanyaan dan ciptakan
sebuah ʻFrameʼ
Hal ini akan mungkin bermanfaat pada saat
berkomunikasi dengan lawan bicara atau pelanggan ‘kelas atas’, dengan
mengetahui pasti apa yang mereka ingin capai. Tips sebelum rapat pikirkanlah
mengenai tujuan dari pribadi dan solusi win/win yang ada. Bagaimana Anda
dapat melacak apa yang Anda inginkan apabila Anda tidak memiliki daftar tujuan?
Ciptakan agenda untuk mendapatkan persetujuan pada tujuan komunikasi dan
menggunakan kuncikunci berkomunikasi salah satunya adalah menyetujui dengan apa
yang dibahas.
Gunakan bahasa atau pembahasan sesuai dengan apa yang
mereka suka, dan benar-benar tulus akan apa yang mereka sukai, alat-alat bantu
yang dapat membantu dan mendukung lawan bicara untuk melihat perspektif Anda.
Mari pikirkan hal ini pada saat Anda ingin mencapai sesuai rencana tugas Anda
adalah untuk menggunakan bahasa untuk dapat mengajak lawan bicara Anda untuk
mengikuti cara berpikir Anda mengenai suatu ide. Salah satu cara lain adalah
membuat kesamaan di dalam rapport. Bagaimana cara kita menciptakan
‘koneksi’ dengan orang lain dan menciptakan rapport dan juga kekuatan dari
hubungan dengan orang lain. Perhatikanlah tingkah laku dari lawan bicara anda,
gerakan atau bahasa tubuh, tingkat kecepatan suara, nada suara.
3. Mengerti akan kebutuhan dan nilai dari
lawan bicara Anda
Apapun pernyataan yang dibuat oleh seseorang, ada
alasan akan apa yang mereka tanyakan dan mengapa itu penting. Hanya dengan
menanyakan “Mengapakah hal ini penting untuk Anda?” apakah anda mengerti pesan
dibalik pesan tersebut? Dengan mirroring ʻpatternsʼ lawan bicara Anda, Anda sedang menciptakan situasi
atau lingkungan dimana seseorang menerima Anda dengan segala perbedaan Anda dan
ʻconnects dengan Andaʼ.
Gunakan bahasa yang menawarkan beberapa pilihan. Menyimpan masalah terlebih
dahulu dan membiarkan situasi masa ini untuk dapat berlangsung. Apakah Anda
tertarik akan...? Apakah Anda tertarik akan..? Mungkin Anda akan lebih bahagia
untuk dapat melangsungkan hidup....?
Saya tidak sedang menggurui Anda hanya memberikan
nasihat?
27 August, 2014
CONFLICT IS A GIFT
“The word conflict has such a negative connotation,
but what we heard from leaders is it isn’t always necessarily bad,”
- Shawn Bakker-
a psychologist and
researcher at Psychometrics Canada
Setiap
saat perusahaan pasti ingin usahanya tambah maju, menggandakan kapital maupun profit.
Tantangan globalisasi semakin kuat. Beberapa korporasi dihadapkan pada situasi
krisis: change or die. Sisanya masih aman. Tetapi membiarkan perusahaan
terus berada di kubangan comfort zone juga bukanlah keputusan bijak.
Sebab perubahan bisa datang kapan saja kepada siapa saja tanpa perlu diundang.
Antisipasi
menjadi kunci. Dalam konteks manajemen internal perusahaan, bagaimana
antisipasi menyikapi konflik? Ini yang menjadi pokok bahasan pada tulisan
ini.
Laut Tenang, Pelaut Tertidur
Jika
pengertian konflik hanya dangkal, orang hanya fokus ke gunung masalah yang
harus selesai. Mereka hanya diajak fokus melihat problem yang tampak kasat
mata, tapi kurang meneropong jauh melihat makna konflik itu sendiri.
Singkatnya, pengertian ini belum kokoh. Tingkat kedalaman memahami
konflik umumnya masih pada tataran “conflict is a disaster”,
belum sampai pada tingkat “conflict is a gift”.
Sudut
pandang yang perlu dibuka kepada seluruh karyawan adalah value dari
konflik. Masih sangat jarang orang bertanya “adakah value atau nilai
positif dari konflik?” atau “apa manfaat atau makna di balik konflik?”. Sudut
pandang pada umumnya adalah bahwa konflik harus dihindari karena lebih banyak
tidak bermanfaat daripada manfaatnya. Konflik hanya keributan bising yang
mengganggu kerja bahkan membuat ketidak-harmonisan hubungan antar karyawan.
Disini hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Pelaut ayo bangun!
Konflik tidak selalu membawa sial. Dengan
ada konflik, berarti ada tantangan yang perlu dipecahkan. Dengan adanya
konflik, potensi karyawan dioptimalkan dalam arti SDM memaksimalkan daya pikir
serta kreatifitas mencari ide atau solusi terbaik bagi perusahaan.
Bayangkan jika situasi kantor tenang, dingin, tidak ada dinamika pertukaran
atau pertarungan ide, dalam jangka panjang perusahaan bisa mengalami kerugian.
Bukan rugi kehilangan profit, tapi rugi SDM-nya “tumpul” tidak
terlatih karena tidak biasa bekerja dalam dinamika kompetitif, dinamis dan update.
Maka, conflict is a gift dimulai
dari mindset. Mindset yang perlu dibangun dalam pikiran
karyawan antara lain:
•
Konflik tidak bisa dihindari namun dalam dunia kerja konflik adalah wajar.
•
Don’t take it personally, fokusnya adalah ide atau solusi apa yang
paling efektif untuk perusahaan, bukan soal siapa menang atau kalah.
Hal
ini bukan bermaksud mendorong karyawan untuk mencari masalah di tempat kerja
atau melakukan hal gegabah lain. Maksudnya kalaupun terjadi konflik, paradigma
karyawan telah berubah. Melihat konflik atau ketidaksetujuan sebagai sesuatu
yang normal. Minimal karyawan terhindar dari sikap reaktif. Jadi yang
dikembangkan adalah sikap dan kemampuan menerima perbedaan pendapat atau ide
(bersikap objektif). Adu argumen, adu pendapat atau berdebat hanyalah sarana
mendapatkan ide yang paling baik.
Emas di Balik Batu
Menyadari
Indonesia sedang berada dalam pusaran ekonomi dunia, perusahaan berlomba-lomba
untuk tetap kompetitif baik dari saingan dalam maupun luar negeri. Ini bukan
soal menambah modal trilyunan rupiah atau mengadopsi teknologi terkini, tapi
soal bagaimana suasana kantor dibangun. Suasana yang dimaksud bukan AC dingin
atau kursi yang empuk, tapi menciptakan
atmosfer bahwa konflik adalah hal biasa, sebuah ketidaksetujuan atau disagreement
berarti ada kemungkinan gagasan yang lebih baik, perbedaan argumen berarti
terbukanya alternatif-alternatif solusi. Disini sikap proaktif mulai bisa
berkembang.
Perspektif
leader lebih melihat konflik ibarat emas yang sedang dipanaskan,
daripada api yang harus cepat-cepat dipadamkan. Konflik hanya sebagai sarana
mencari solusi terbaik. Berada dalam suasana ini, setiap pribadi karyawan bisa
berdaya maksimum, karyawan berani berpikir, bersuara dalam rangka memberi saran
atau ide terbaik bagi perusahaannya.
Sumber :
MDI News 199/XIX/MARET 2014
25 August, 2014
08 August, 2014
Dimulai Dengan Angan Angan
Apa yang anda sekarang angankan, bila kita bicara tentang setahun, dua tahun ke depan? Apakah anda melihat masalah, dan segala sesuatu yang berantakan? Ataukah anda melihat peluang dan keberhasilan?
Tidak ada batas bagi imajinasi. Anda boleh mengkhayalkan apa saja. Khayalan tidak bisa dibatasi realitas fisik, kesulitan keuangan, rasa takut, penolakan dan apa saja yang mengurung anda di “dunia nyata”.
Bayangkan masa depan, dan biarkan diri anda melaju dengannya.
Tinggalkan kendala di belakang, dan tampilkan hidup yang ingin anda jalankan.
Hidup yang anda ciptakan akan dimulai dari angan anda.
Ciptakan angan-angan terbaik dan mulai bertindak untuk mewujudkannya dan mulai bertindak untuk mewujudkannya dan mulai bertindak untuk mewujudkannya.
31 July, 2014
INFO SDM EDISI JULI
Inspirasi
Sang Kapten
Kecil
Budi,
demikian
kami memanggilnya.
Sangat
susah
mengingat
nama
belakangnya,
terutama
karena
sekitar
25 tahun
lalu
kami sama-sama
bermain
tanpa
perlu
tahu
nama
lengkap
masing-masing
teman.
“Kamu
jadi
kaptennya,”
tunjuk
Budi pada
saya
tiba-tiba
saat
kami akan
mulai
bermain
sepakbola
lima lawan
lima.
Tim saya
melawan
tim
yang dipimpin
Kapten
Budi. Entah
apa
yang dipikirkannya
sehingga
anak
baru
yang belum
lama pindah
ke
lingkungan
itu,
ditunjuknya
jadi
kapten
melawan
timnya.
Pada
saat
itu
saya
hanya
bisa
senyum-senyum
saja.
Belakangan
saya
sadar,
itu
cara
Budi membuat
saya
langsung
akrab
dengan
teman-teman
yang lain. Karena
Budi, saya
yang sebelumnya
tidak
memiliki
teman
sepermainan
yang akrab
di kampung
tempat
tinggal
sebelumnya,
perlahan
mulai
bisa
belajar
bergaul.
Kata Budi saat
itu,
kapten
harus
banyak
bicaranya,
tidak
boleh
pemalu.
Sejatinya,
Budi memang
selalu
dianggap
sebagai
pemimpin
kami. Dialah
kapten
utama
jika
anak-anak
kampung
kami ditantang
main bola dengan
anak-anak
kampung
sebelah.
Budi pula yang selalu
kami kunjungi
untuk
bermain
meskipun
rumahnya
hanya
beralaskan
tanah.
Ada satu
hal
lagi
yang membuat
kami hormat
pada
Budi, karena
dia
selalu
lebih
pintar
dan
seolah
tahu
banyak
hal.
Suatu
waktu
ia
bisa
mengajarkan
trik
mendrible
bola ala
Maradona
dengan
seolah-olah
mencungkil
bola melewati
lawan.
Belakangan
saya
heran
dari
mana
ia
mendapatkan
trik
itu
padahal
di rumahnya
televisi
pun tidak
ada.
Hingga
suatu
saat,
Budi yang berumur
dua
tahun
lebih
tua
daripada
saya,
harus
mengalami
kecelakaan.
Tulang
tangannya
ada
yang patah
dan
terpaksa
dibalut
gips.
Meski
demikian,
Budi masih
sanggup
berteriak
dari
pinggir
lapangan
memberi
semangat
teman-temannya
bermain
bola.
“Maju,
oper
kiri!
Hei,
awas
kiper!”
Budi tak
pernah
menangisi
kondisinya
akibat
kecelakaan.
Pun dengan
kondisi
orang tuanya
yang pas-pasan.
Budi memang
tak
pernah
benar-benar
sembuh
seperti
semula
karena
mungkin
orang tuanya
tidak
mampu
membiayai
pengobatannya.
Namun
itu
tak
membuat
peran
Budi berkurang
di lingkungan
kami.
Budi bagai
inspirasi
anak-anak
di kampung
kami serta
menjadi
sosok
yang dijadikan
kakak
oleh
para
orang tua
kami. Orang tua kami
selalu
menyebut
nama
Budi dan
menyuruh
kami mencontohnya
saat
kami mulai
menangis,
merengek
minta
dibelikan
mainan.
Sebagai
anak
kecil,
karena
melihat
Budi, kami menjadi
malu
saat
ketahuan
menangis.
Sosok
Budi mengajari
saya
dan
anak-anak
lainnya
tentang
makna
berbagi
dan
peduli
terhadap
sesama
teman.
Juga
makna
kesetiakawanan
saat
salah
satu
di antara
kami harus
dibela
ketika
ada
orang lain yang berbuat
nakal
kepadanya.
Kami lebih
suka
bermain
permainan
tim
seperti
sepakbola
dan
betengan
dibanding
harus
merengek
pada
orang tua
untuk
dibelikan
mainan.
Semua
jenis
permainan
kami saat
itu
tak
perlu
membeli
peralatannya
terlebih
dulu,
kecuali
sebuah
bola plastik
yang kami beli
patungan
di warung.
Itupun
kami gunakan
berulang-ulang
hingga
bolanya
jebol
atau
peyok.
Sebuah
momen
yang akhirnya
selalu
mengingatkan
saya
untuk
tidak
boros
membeli
sesuatu
barang
baru
kecuali
benar-benar
sudah
rusak
dan
tidak
bisa
digunakan
lagi.
Meski
kemudian
Budi dan
saya
sama
sekali
tak
pernah
bertemu
karena
keluarga
kami sering
berpindah-pindah
tempat
tinggal,
tetapi
sosoknya
tak
bisa
hilang
dari
memori
jaman
kanak-kanak
saya.
Ucapannya
pada
saya
saat
itu,
“kamu
jadi
kaptennya,”
seolah
tak
pernah
terlupa
meski
hal
itu
diucapkan
pada
saya
yang masih
ingusan
dan
ketika
kami baru
kenal
beberapa
jam saja.
Saya
menganggapnya
sebagai
“mantra” untuk
menumbuhkan
kepercayaan
diri,
sebuah
titik
balik
karena
sebelumnya
saya
jarang
memiliki
sekelompok
kawan
yang saling
peduli.
Jika
Budi kecil
saja
langsung
percaya
bahwa
saya
pantas
jadi
kapten
saat
itu,
kenapa
dalam
kehidupan
saya
sekarang
tidak
bisa
mengemban
tugas
yang lebih
berat?
Kalimat
yang mungkin
sama
sekali
tidak
disadari
oleh
Budi bisa
mempengaruhi
saya
hingga
kini
dalam
arti
positif.
Tidak
semua
anak
bisa
memiliki
karakter
seperti
Budi, terutama
saat
jaman
ikut
andil
menggerus
pola
hubungan
sosial
dan
pola
permainan
anak-anak
saat
ini.
Ketika
masa
kanak-kanaknya
sudah
terlihat
bakat
sebagai
pemimpin,
saya
kerap
berandai-andai
saat
Budi dewasa
benar-benar
sukses
menjadi
kapten
atau
seorang
pemimpin.
Saya
membayangkan
tentang
sosok
kapten
seperti
Steven Gerrard
di Inggris,
karakter
masa
kecilnya
mungkin
hampir
sama
dengan
Budi kecil,
karakter
seorang
pemimpin.
Sang kapten
Gerrard
tak
terbantahkan
lagi
menjadi
inspirasi
dan
loyalitasnya
dipuji
karena
sepanjang
kariernya
hanya
membela
satu
klub
saja.
Lihatlah
tatkala
ia
memimpin
Liverpool menginjakkan
kaki di Indonesia. Beragam
pemberitaan
dan
kicauan
di media sosial
seolah
kompak
mengabarkan
bahwa
sang kapten
begitu
ramah
dan
bersahabat
di luar
lapangan.
Lihatlah
bagaimana
inisiatifnya
berjalan
di depan,
memimpin
rekan-rekannya
untuk
mengitari
lapangan,
melambai
pada
suporter
Indonesia usai
laga.
Sungguh
ia
tahu
cara
berterima
kasih
di rumah
orang, dan
ia
benar-benar
menunjukkannya
dengan
kebersahajaan.
Itulah
peran
kapten
sejati.
Kapten
bukanlah
peran
tanpa
makna.
Sebuah
ban kecil
yang melingkar
di lengan,
sesungguhnya
harus
terikat
di hati
sang kapten
tersebut.
Ia
tak
hanya
bertugas
sebagai
wakil
tim
di lapangan
saat
berkomunikasi
dengan
wasit.
Ia
tak
hanya
berperan
sebagai
penyemangat
rekan-rekannya
di dalam
lapangan.
Lebih
dari
itu,
seorang
kapten
adalah
adalah
panutan
di dalam
maupun
di luar
lapangan.
Saat
terjepit,
ia
tidak
boleh
larut
dalam
keterpurukan.
Bahkan
sebuah
tepukan
kecil
di dada rekan-rekannya,
merupakan
tindakan
penting
sang kapten
yang bisa
membangun
semangat
kebersamaan.
Kembali
ke
sosok
Budi kecil.
Mungkin
saya
tak
akan
pernah
lagi
berjumpa
dengannya,
tapi
sosok
ceria dan
pantang
menyerahnya
adalah
hal
utama
yang menginspirasi
saya
dalam
mendidik
anak
saya.
Karena
menjadi
kapten
yang baik
dalam
kehidupan
nyata
sesungguhnya
tidak
bisa
diciptakan
dalam
sekejap.
Baik
sebagai
kapten
untuk
diri
sendiri,
maupun
kapten
yang menginspirasi
orang lain.
Kolom
Inspirasi
:
Dari cerita
inspirasi
sederhana
tersebut
kita
semua
dapat
memaknai
bahwa
seorang
pemimpin
harus
mampu
mempercayai
anggota
teamnya,
bagaimanapun
dia. Hal ini
ditunjukkan
Budi saat
memberikan
posisi
kapten
kepada
anak
yang baru
saja
datang
di lingkungan
tersebut.
Ini
inspirasi
yang kudapat,
bagaimana
dengan
Anda?
Sumber
:
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/08/22/inspirasi-sang-kapten-kecil-583935.html
Subscribe to:
Comments (Atom)


