Inspirasi
Sang Kapten
Kecil
Budi,
demikian
kami memanggilnya.
Sangat
susah
mengingat
nama
belakangnya,
terutama
karena
sekitar
25 tahun
lalu
kami sama-sama
bermain
tanpa
perlu
tahu
nama
lengkap
masing-masing
teman.
“Kamu
jadi
kaptennya,”
tunjuk
Budi pada
saya
tiba-tiba
saat
kami akan
mulai
bermain
sepakbola
lima lawan
lima.
Tim saya
melawan
tim
yang dipimpin
Kapten
Budi. Entah
apa
yang dipikirkannya
sehingga
anak
baru
yang belum
lama pindah
ke
lingkungan
itu,
ditunjuknya
jadi
kapten
melawan
timnya.
Pada
saat
itu
saya
hanya
bisa
senyum-senyum
saja.
Belakangan
saya
sadar,
itu
cara
Budi membuat
saya
langsung
akrab
dengan
teman-teman
yang lain. Karena
Budi, saya
yang sebelumnya
tidak
memiliki
teman
sepermainan
yang akrab
di kampung
tempat
tinggal
sebelumnya,
perlahan
mulai
bisa
belajar
bergaul.
Kata Budi saat
itu,
kapten
harus
banyak
bicaranya,
tidak
boleh
pemalu.
Sejatinya,
Budi memang
selalu
dianggap
sebagai
pemimpin
kami. Dialah
kapten
utama
jika
anak-anak
kampung
kami ditantang
main bola dengan
anak-anak
kampung
sebelah.
Budi pula yang selalu
kami kunjungi
untuk
bermain
meskipun
rumahnya
hanya
beralaskan
tanah.
Ada satu
hal
lagi
yang membuat
kami hormat
pada
Budi, karena
dia
selalu
lebih
pintar
dan
seolah
tahu
banyak
hal.
Suatu
waktu
ia
bisa
mengajarkan
trik
mendrible
bola ala
Maradona
dengan
seolah-olah
mencungkil
bola melewati
lawan.
Belakangan
saya
heran
dari
mana
ia
mendapatkan
trik
itu
padahal
di rumahnya
televisi
pun tidak
ada.
Hingga
suatu
saat,
Budi yang berumur
dua
tahun
lebih
tua
daripada
saya,
harus
mengalami
kecelakaan.
Tulang
tangannya
ada
yang patah
dan
terpaksa
dibalut
gips.
Meski
demikian,
Budi masih
sanggup
berteriak
dari
pinggir
lapangan
memberi
semangat
teman-temannya
bermain
bola.
“Maju,
oper
kiri!
Hei,
awas
kiper!”
Budi tak
pernah
menangisi
kondisinya
akibat
kecelakaan.
Pun dengan
kondisi
orang tuanya
yang pas-pasan.
Budi memang
tak
pernah
benar-benar
sembuh
seperti
semula
karena
mungkin
orang tuanya
tidak
mampu
membiayai
pengobatannya.
Namun
itu
tak
membuat
peran
Budi berkurang
di lingkungan
kami.
Budi bagai
inspirasi
anak-anak
di kampung
kami serta
menjadi
sosok
yang dijadikan
kakak
oleh
para
orang tua
kami. Orang tua kami
selalu
menyebut
nama
Budi dan
menyuruh
kami mencontohnya
saat
kami mulai
menangis,
merengek
minta
dibelikan
mainan.
Sebagai
anak
kecil,
karena
melihat
Budi, kami menjadi
malu
saat
ketahuan
menangis.
Sosok
Budi mengajari
saya
dan
anak-anak
lainnya
tentang
makna
berbagi
dan
peduli
terhadap
sesama
teman.
Juga
makna
kesetiakawanan
saat
salah
satu
di antara
kami harus
dibela
ketika
ada
orang lain yang berbuat
nakal
kepadanya.
Kami lebih
suka
bermain
permainan
tim
seperti
sepakbola
dan
betengan
dibanding
harus
merengek
pada
orang tua
untuk
dibelikan
mainan.
Semua
jenis
permainan
kami saat
itu
tak
perlu
membeli
peralatannya
terlebih
dulu,
kecuali
sebuah
bola plastik
yang kami beli
patungan
di warung.
Itupun
kami gunakan
berulang-ulang
hingga
bolanya
jebol
atau
peyok.
Sebuah
momen
yang akhirnya
selalu
mengingatkan
saya
untuk
tidak
boros
membeli
sesuatu
barang
baru
kecuali
benar-benar
sudah
rusak
dan
tidak
bisa
digunakan
lagi.
Meski
kemudian
Budi dan
saya
sama
sekali
tak
pernah
bertemu
karena
keluarga
kami sering
berpindah-pindah
tempat
tinggal,
tetapi
sosoknya
tak
bisa
hilang
dari
memori
jaman
kanak-kanak
saya.
Ucapannya
pada
saya
saat
itu,
“kamu
jadi
kaptennya,”
seolah
tak
pernah
terlupa
meski
hal
itu
diucapkan
pada
saya
yang masih
ingusan
dan
ketika
kami baru
kenal
beberapa
jam saja.
Saya
menganggapnya
sebagai
“mantra” untuk
menumbuhkan
kepercayaan
diri,
sebuah
titik
balik
karena
sebelumnya
saya
jarang
memiliki
sekelompok
kawan
yang saling
peduli.
Jika
Budi kecil
saja
langsung
percaya
bahwa
saya
pantas
jadi
kapten
saat
itu,
kenapa
dalam
kehidupan
saya
sekarang
tidak
bisa
mengemban
tugas
yang lebih
berat?
Kalimat
yang mungkin
sama
sekali
tidak
disadari
oleh
Budi bisa
mempengaruhi
saya
hingga
kini
dalam
arti
positif.
Tidak
semua
anak
bisa
memiliki
karakter
seperti
Budi, terutama
saat
jaman
ikut
andil
menggerus
pola
hubungan
sosial
dan
pola
permainan
anak-anak
saat
ini.
Ketika
masa
kanak-kanaknya
sudah
terlihat
bakat
sebagai
pemimpin,
saya
kerap
berandai-andai
saat
Budi dewasa
benar-benar
sukses
menjadi
kapten
atau
seorang
pemimpin.
Saya
membayangkan
tentang
sosok
kapten
seperti
Steven Gerrard
di Inggris,
karakter
masa
kecilnya
mungkin
hampir
sama
dengan
Budi kecil,
karakter
seorang
pemimpin.
Sang kapten
Gerrard
tak
terbantahkan
lagi
menjadi
inspirasi
dan
loyalitasnya
dipuji
karena
sepanjang
kariernya
hanya
membela
satu
klub
saja.
Lihatlah
tatkala
ia
memimpin
Liverpool menginjakkan
kaki di Indonesia. Beragam
pemberitaan
dan
kicauan
di media sosial
seolah
kompak
mengabarkan
bahwa
sang kapten
begitu
ramah
dan
bersahabat
di luar
lapangan.
Lihatlah
bagaimana
inisiatifnya
berjalan
di depan,
memimpin
rekan-rekannya
untuk
mengitari
lapangan,
melambai
pada
suporter
Indonesia usai
laga.
Sungguh
ia
tahu
cara
berterima
kasih
di rumah
orang, dan
ia
benar-benar
menunjukkannya
dengan
kebersahajaan.
Itulah
peran
kapten
sejati.
Kapten
bukanlah
peran
tanpa
makna.
Sebuah
ban kecil
yang melingkar
di lengan,
sesungguhnya
harus
terikat
di hati
sang kapten
tersebut.
Ia
tak
hanya
bertugas
sebagai
wakil
tim
di lapangan
saat
berkomunikasi
dengan
wasit.
Ia
tak
hanya
berperan
sebagai
penyemangat
rekan-rekannya
di dalam
lapangan.
Lebih
dari
itu,
seorang
kapten
adalah
adalah
panutan
di dalam
maupun
di luar
lapangan.
Saat
terjepit,
ia
tidak
boleh
larut
dalam
keterpurukan.
Bahkan
sebuah
tepukan
kecil
di dada rekan-rekannya,
merupakan
tindakan
penting
sang kapten
yang bisa
membangun
semangat
kebersamaan.
Kembali
ke
sosok
Budi kecil.
Mungkin
saya
tak
akan
pernah
lagi
berjumpa
dengannya,
tapi
sosok
ceria dan
pantang
menyerahnya
adalah
hal
utama
yang menginspirasi
saya
dalam
mendidik
anak
saya.
Karena
menjadi
kapten
yang baik
dalam
kehidupan
nyata
sesungguhnya
tidak
bisa
diciptakan
dalam
sekejap.
Baik
sebagai
kapten
untuk
diri
sendiri,
maupun
kapten
yang menginspirasi
orang lain.
Kolom
Inspirasi
:
Dari cerita
inspirasi
sederhana
tersebut
kita
semua
dapat
memaknai
bahwa
seorang
pemimpin
harus
mampu
mempercayai
anggota
teamnya,
bagaimanapun
dia. Hal ini
ditunjukkan
Budi saat
memberikan
posisi
kapten
kepada
anak
yang baru
saja
datang
di lingkungan
tersebut.
Ini
inspirasi
yang kudapat,
bagaimana
dengan
Anda?
Sumber
:
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/08/22/inspirasi-sang-kapten-kecil-583935.html