31 July, 2014

INFO SDM EDISI JULI

Inspirasi Sang Kapten Kecil

Budi, demikian kami memanggilnya. Sangat susah mengingat nama belakangnya, terutama karena sekitar 25 tahun lalu kami sama-sama bermain tanpa perlu tahu nama lengkap masing-masing teman.
Kamu jadi kaptennya,” tunjuk Budi pada saya tiba-tiba saat kami akan mulai bermain sepakbola lima lawan lima.
Tim saya melawan tim yang dipimpin Kapten Budi. Entah apa yang dipikirkannya sehingga anak baru yang belum lama pindah ke lingkungan itu, ditunjuknya jadi kapten melawan timnya. Pada saat itu saya hanya bisa senyum-senyum saja.
Belakangan saya sadar, itu cara Budi membuat saya langsung akrab dengan teman-teman yang lain. Karena Budi, saya yang sebelumnya tidak memiliki teman sepermainan yang akrab di kampung tempat tinggal sebelumnya, perlahan mulai bisa belajar bergaul. Kata Budi saat itu, kapten harus banyak bicaranya, tidak boleh pemalu.
Sejatinya, Budi memang selalu dianggap sebagai pemimpin kami. Dialah kapten utama jika anak-anak kampung kami ditantang main bola dengan anak-anak kampung sebelah. Budi pula yang selalu kami kunjungi untuk bermain meskipun rumahnya hanya beralaskan tanah. Ada satu hal lagi yang membuat kami hormat pada Budi, karena dia selalu lebih pintar dan seolah tahu banyak hal. Suatu waktu ia bisa mengajarkan trik mendrible bola ala Maradona dengan seolah-olah mencungkil bola melewati lawan. Belakangan saya heran dari mana ia mendapatkan trik itu padahal di rumahnya televisi pun tidak ada.
Hingga suatu saat, Budi yang berumur dua tahun lebih tua daripada saya, harus mengalami kecelakaan. Tulang tangannya ada yang patah dan terpaksa dibalut gips. Meski demikian, Budi masih sanggup berteriak dari pinggir lapangan memberi semangat teman-temannya bermain bola.
Maju, oper kiri! Hei, awas kiper!”
Budi tak pernah menangisi kondisinya akibat kecelakaan. Pun dengan kondisi orang tuanya yang pas-pasan. Budi memang tak pernah benar-benar sembuh seperti semula karena mungkin orang tuanya tidak mampu membiayai pengobatannya. Namun itu tak membuat peran Budi berkurang di lingkungan kami.
Budi bagai inspirasi anak-anak di kampung kami serta menjadi sosok yang dijadikan kakak oleh para orang tua kami. Orang tua kami selalu menyebut nama Budi dan menyuruh kami mencontohnya saat kami mulai menangis, merengek minta dibelikan mainan. Sebagai anak kecil, karena melihat Budi, kami menjadi malu saat ketahuan menangis. Sosok Budi mengajari saya dan anak-anak lainnya tentang makna berbagi dan peduli terhadap sesama teman. Juga makna kesetiakawanan saat salah satu di antara kami harus dibela ketika ada orang lain yang berbuat nakal kepadanya.
Kami lebih suka bermain permainan tim seperti sepakbola dan betengan dibanding harus merengek pada orang tua untuk dibelikan mainan. Semua jenis permainan kami saat itu tak perlu membeli peralatannya terlebih dulu, kecuali sebuah bola plastik yang kami beli patungan di warung. Itupun kami gunakan berulang-ulang hingga bolanya jebol atau peyok. Sebuah momen yang akhirnya selalu mengingatkan saya untuk tidak boros membeli sesuatu barang baru kecuali benar-benar sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.
Meski kemudian Budi dan saya sama sekali tak pernah bertemu karena keluarga kami sering berpindah-pindah tempat tinggal, tetapi sosoknya tak bisa hilang dari memori jaman kanak-kanak saya. Ucapannya pada saya saat itu, “kamu jadi kaptennya,” seolah tak pernah terlupa meski hal itu diucapkan pada saya yang masih ingusan dan ketika kami baru kenal beberapa jam saja.
Saya menganggapnya sebagai “mantra” untuk menumbuhkan kepercayaan diri, sebuah titik balik karena sebelumnya saya jarang memiliki sekelompok kawan yang saling peduli. Jika Budi kecil saja langsung percaya bahwa saya pantas jadi kapten saat itu, kenapa dalam kehidupan saya sekarang tidak bisa mengemban tugas yang lebih berat? Kalimat yang mungkin sama sekali tidak disadari oleh Budi bisa mempengaruhi saya hingga kini dalam arti positif.
Tidak semua anak bisa memiliki karakter seperti Budi, terutama saat jaman ikut andil menggerus pola hubungan sosial dan pola permainan anak-anak saat ini. Ketika masa kanak-kanaknya sudah terlihat bakat sebagai pemimpin, saya kerap berandai-andai saat Budi dewasa benar-benar sukses menjadi kapten atau seorang pemimpin.
Saya membayangkan tentang sosok kapten seperti Steven Gerrard di Inggris, karakter masa kecilnya mungkin hampir sama dengan Budi kecil, karakter seorang pemimpin. Sang kapten Gerrard tak terbantahkan lagi menjadi inspirasi dan loyalitasnya dipuji karena sepanjang kariernya hanya membela satu klub saja. Lihatlah tatkala ia memimpin Liverpool menginjakkan kaki di Indonesia. Beragam pemberitaan dan kicauan di media sosial seolah kompak mengabarkan bahwa sang kapten begitu ramah dan bersahabat di luar lapangan.
Lihatlah bagaimana inisiatifnya berjalan di depan, memimpin rekan-rekannya untuk mengitari lapangan, melambai pada suporter Indonesia usai laga. Sungguh ia tahu cara berterima kasih di rumah orang, dan ia benar-benar menunjukkannya dengan kebersahajaan.
Itulah peran kapten sejati. Kapten bukanlah peran tanpa makna. Sebuah ban kecil yang melingkar di lengan, sesungguhnya harus terikat di hati sang kapten tersebut. Ia tak hanya bertugas sebagai wakil tim di lapangan saat berkomunikasi dengan wasit. Ia tak hanya berperan sebagai penyemangat rekan-rekannya di dalam lapangan. Lebih dari itu, seorang kapten adalah adalah panutan di dalam maupun di luar lapangan. Saat terjepit, ia tidak boleh larut dalam keterpurukan. Bahkan sebuah tepukan kecil di dada rekan-rekannya, merupakan tindakan penting sang kapten yang bisa membangun semangat kebersamaan.
Kembali ke sosok Budi kecil. Mungkin saya tak akan pernah lagi berjumpa dengannya, tapi sosok ceria dan pantang menyerahnya adalah hal utama yang menginspirasi saya dalam mendidik anak saya. Karena menjadi kapten yang baik dalam kehidupan nyata sesungguhnya tidak bisa diciptakan dalam sekejap. Baik sebagai kapten untuk diri sendiri, maupun kapten yang menginspirasi orang lain.
Kolom Inspirasi :
Dari cerita inspirasi sederhana tersebut kita semua dapat memaknai bahwa seorang pemimpin harus mampu mempercayai anggota teamnya, bagaimanapun dia. Hal ini ditunjukkan Budi saat memberikan posisi kapten kepada anak yang baru saja datang di lingkungan tersebut.
Ini inspirasi yang kudapat, bagaimana dengan Anda?
Sumber :

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/08/22/inspirasi-sang-kapten-kecil-583935.html